7 Apr 2016

Terungkap, Sikat Gigi Ini Gunakan Bulu Babi Sebagai Alat Pembersihnya


Produk Or** * diduga menggunakan bulu babi sebagai bahan bulu pada sikat giginya

MEDAN- Masyarakat dihebohkan oleh produk sikat gigi yang menggunakan bulu babi sebagai bahan dasar yang digunakan untuk membersihkan gigi kita sehari-hari.

Penggunaan produk itu merujuk tulisan dalam bahasa inggris yakni bristles pada kemasannya.

Seperti yang diterangkan situs Wikipedia produk bristles didapatkan dari turunan babi berupa bulu.

Bulu ini kerap digunakan oleh industri sebagai alat pembersih gigi, sikat toilet alat pembersih rumah tangga.

Penggunaan bagian tubuh babi termasuk bulunya ternyata diharamkan dalam Islam.

Seperti yang diutarakan oleh Ketua MUI Kota Medan, Muhammad Hatta mengatakan, jika benar sikat gigi tersebut terbuat dari bulu babi, sikat gigi tersebut haram.

"Dalam Al Surah Surah Al Maidah ayat 3 dijelaskan turunan dari babi itu haram. Keharaman ini akan kita telusuri, benar-benar dari bulu babi atau tidak," katanya via seluler, Senin (7/3/2016)

Dia menambahkan, jika terbukti MUI akan publikasi kepada masyarakat agar tidak mengunakan sikat gigi tersebut. Selain itu, MUI akan menarik produk tersebut dari pasar.

Berbekal informasi inilah Tribun kemudian menelusuri kebenaran penggunaan bulu babi pada produk pembersih gigi.

Seperti yang terdapat pada minimarket di Jalan Denai, sikat gigi bermerek Or** * jelas-jelas terbuat dari bristles.

Pada kemasan produk tersebut jelas menerangkan produknya, "Super thin Bristles".

Sementara itu, terkait hal ini Dinas Kesehatan Kota Medan belum bisa memberikan keterangan terkait beredarnya bulu babi pada produk sikat gigi di Kota Medan. Sumber

Nonton videonya di sini









18 Dec 2012

Tangisan Ibu dan Anak Kerbau

Oleh : Novi

Kisah nyata ini terjadi di sebuah kampung di Pulau Kalimantan. Kala itu ada keluarga saya yang akan menikah. Sesuai tradisi di sana, jika ada yang menikah maka mereka akan memotong binatang untuk disantap. Begitu pula keluarga saya, mereka juga sudah menyiapkan dua ekor kerbau yang terdiri dari ibu dan anak.

Satu hari menjelang hari pernikahan, orang-orang kampung berkumpul ramai-ramai untuk memotong kerbau-kerbau tersebut. Ketika itu mereka memotong ibu kerbau terlebih dahulu. Mereka memotong ibu kerbau ini di depan anaknya. Si anak kerbau yang menyaksikan ibunya dipotong serta merta berteriak mengaung keras-keras sembari mengeluarkan air mata, begitu juga dengan ibu kerbau itu, juga mengeluarkan air mata menangis, sungguh kasihan sekali. Ketika si ibu kerbau selesai dipotong, matanya terbuka melihat ke arah orang-orang yang memotongnya.

Setelah melihat ibunya dibunuh di depan mata, layaknya manusia, si anak kerbau pun kehilangan nafsu makan, ketika diumpan dengan dikasih makan juga tetap tidak mau makan. Si anak kerbau terlihat lemah dan sakit, hanya diam tidak mengeluarkan suara, nyata sekali kalau dia sangat berduka atas kematian ibunya.

Keesokan harinya giliran si anak kerbau ini yang dipotong. Banyak yang menangis melihat kerbau itu dipotong. Setelah selesai dipotong dan dimasak dagingnya, sebagian besar orang-orang kampung yang melihat peristiwa ini tidak mau makan dagingnya, karena menurut mereka, rasa daging kerbaunya terasa aneh.

Cerita pilu ini saya dengar dari ibu saya. Saya pun menangis sedih, begitu pula ibu saya juga menangis. Hewan-hewan ini berperasaan sama dengan manusia yang takut kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Saya sadar akan besarnya makna menjadi seorang vegetarian dari sisi cinta kasih terhadap hewan sebagai makhluk yang juga mempunyai perasaan. Kini sudah sekitar enam bulan saya menjadi seorang vegetarian.

Sampai tujuh hari setelah lewat hari pernikahan, daging kerbau tersebut masih tersisa banyak karena tidak ada yang mau makan, karena orang-orang menyaksikan sedihnya kerbau itu menjelang pemotongan. Sebagian orang-orang yang mencoba makan daging kerbau yang sudah dimasak, mengatakan bahwa daging tersebut terasa aneh. Tentu ada rasa sedih, takut, marah dan benci di daging tersebut yang membuatnya terasa aneh.






15 Apr 2012

Duta Bahagia

by Grace Luminto

Hari ini di kantor saat menjelang makan siang, saya membawa bekalku menuju ruang makan. Sesampaiku di dapur, ternyata telah ada seorang kolega yang tengah menyiapkan roti sandwichnya. Dengan basa-basi ala karyawan, ia menanyakan lauk apa yang telah kubawa hari ini. Dia melongok sebentar dari rotinya dan melihat bekalku. Lalu dia berkata bahwa menjadi seorang vegetarian adalah hal yang sangat susah. Makanan santri dikabarkan kurang gizi dan tidak mengeyangkan. Aku tersenyum kecil dan dalam batinku, “Wah, kalau dia sampai bertemu dengan grup IVS di Indonesia, pasti ‘habis’ dia bila berargumentasi tentang nilai gizi vegetarian”.

Selanjutnya, sembari memamerkan sandwich ikan tuna makan siangnya, ia memegang sebuah garpu dan mencungkil-cungkil daging ikan tuna dalam kaleng. Sambil mengorek daging tuna, ia dengan bangga mengatakan bahwa walaupun ia penikmat ikan sejati namun masih memiliki “etika” untuk tidak menyantap ikan lumba dan segala produk dari sirip ikan hiu.
Mendengar peryataannya demikian, ditambah pemandangan daging sayatan ikan tuna yang dikorek dari kaleng, saya merasa iba. Iba melihat betapa banyak nyawa ikan tuna yang melayang sebelum menjadi sayatan dan disajikan dalam kaleng. Dan iba melihat sebagian manusia yang memuja pembunuhan dan bersuka cita di atas penderitaan mahluk lain.

Ditengah rasa kasihan, saya mendadak teringat seorang temanku di vihara yang pada pergantian tahun baru lalu, ia memberitahukan resolusinya untuk tahun ini. Ia berikrar di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, ia akan berusaha untuk menjadi seorang Duta Bahagia. Rupanya temanku ini terinspirasi oleh sebuah syair karya Ella Wheeler Wilcox berjudul “Suara Sang Bisu”, yang secara sederhana intinya sebagai berikut:

Aku adalah suara dari yang tidak bersuara
Melalui aku si bisu berbicara
Hingga telinga dunia yang tuli dibuat menyimak
Ketidakadilan si lemah yang tak mampu berucap kata
Sungguh memalukan bunda para manusia
Yang tak pernah mengajarkan untuk merendah diri
Dari kesedihan yang terpancar dari mata kasih sang bisu
Kepiluan tanpa kata-kata
Mulai dari jalanan, sampai kandang, hingga kurungan
Berawal dari rimba hingga kebun binatang
Teriakan siksaan saudaraku menyerukan dosa
Oleh yang berkuasa menindas yang lemah
Kekuatan yang sama menciptakan segala unggas
Yang juga menciptakan manusia, Sang Raja
Ke-esaan Tuhan menghembuskan nafas kehidupan
Kepada segala mahluk berbulu dan bersayap
Aku adalah pelindung saudaraku,
Dan aku akan berjuang untuknya,
Dan berucap kata bagi segala binatang dan unggas,
Hingga dunia memperlakukan segala mahluk secara adil.

Pada saat ini, microwave tiba-tiba berbunyi menandakan makan siangku telah siap dan tersaji panas. Kupandangi makan siangku yang sederhana dan mungkin nilai gizinya yang hanya pas-pasan. Namun aku bahagia karena di dalam piringku tidak ada darah, tidak ada tangisan, tidak ada siksaan dan tidak ada pembantaian. Inilah makanan yang patut disantap oleh seorang Duta Bahagia.


9 Mar 2012

Seminar Pro dan Kontra Vegetarian di Kemenkes

Serangkaian dengan Hari Gizi Nasional 2012, Kementerian Kesehatan dan Persagi bekerja sama dengan IVS-VSI mengadakan Seminar Pro dan Kontra Vegetarian pada tanggal 25 February 2012 dengan tema,”Bagaimana Mutu Makanan Vegetarian, Apakah Dapat Mengendalikan Penyakit Degeneratif atau Sebaliknya Menjadi Vegetarian akan Kekurangan Berbagai Zat Gizi”

DR. Minarto, MPS selaku Direktur Bina Gizi Masyarakat Kemenkes dan Ketua Umum Persagi dalam kata sambutannya menyampaikan,”Persatuan Ahli Gizi dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat Kemenkes akan menerbitkan Pernyataan Sikap (Position Statement) untuk mendukung gizi dan kesehatan gizi vegetarian/vegan seperti Journal Position Statement yang sudah diterbitkan oleh American Dietetic Association di America dan Canada sejak 1997, 2003, 2009.

Hadir 3 pembicara dalam seminar ini, sesi pertama dibawakan oleh DR. Susianto (President Vegan Society of Indonesia). Memaparkan Mutu Gizi Vegetarian, salah satu informasi mendasar yang ditekankan beliau,”Efisiensi Rasio Protein, yang selama ini digunakan ternyata tidak mengacu pola kebutuhan manusia karena penelitiannya menggunakan tikus yang tentu saja rasio kebutuhan asam aminonya berbeda dengan manusia, dan sekarang acuan baru telah dikeluarkan oleh WHO” Semua ini mematahkan isu lama bahwa protein hewani lebih unggul dari protein nabati. Ulasan-ulasan berbasis ilmiah lainnya juga dipaparkan dalam forum ini semakin memperjelas vegetarian/vegan adalah pola diet yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sesi kedua tidak kalah menariknya disampaikan oleh Rita Ramayulis, DCN,M.Kes. Instruktur Fitnes Depkes dan Dosen Gizi Poltekkes Kementerian Kesehatan RI). Bu Rita memulai paparannya dengan isu yang banyak menjadi pertanyaan banyak kalangan, “Apakah vegetarian dapat mengatasi penyakit degeneratif?” Semua terjawab dengan gamblang dengan merujuk dari data-data penelitian bahwa non vegetarian bahkan berada pada area berisiko tinggi defisiensi nutrisi dan menderita penyakit degeneratif dibanding kelompok vegetarian. Data dari National Cancer Institut bahwa konsumsi daging dengan frekuensi lebih dari 4 kali seminggu tingkatkan resiko kanker lambung sebesar 2 kali.

Sesi terakhir disampaikan oleh Nufri Afriansyah, MSc dari Pusat Teknologi dan Epidemiologi Klinik. Mengangkat topik,”Vegetarian Menurut Gizi Seimbang: Benarkah Rentan Kekurangan Gizi?’

Beliau mengakui isu-isu kontra tentang vegetarian, kini telah ditinggalkan karena bukti-bukti penelitian menunjukkan pelaku vegetarian/vegan yang terencana dengan baik dapat terhindar dari resiko kekurangan gizi. Namun beliau juga menekankan, khususnya bagi pelaku vegan untuk memperhatikan tiga unsur gizi yang asupannya relatif minim pada diet vegan yakni: Vitamin B12, Vitamin D dan Kalsium. Vitamin B12 dapat diperoleh dari tempe atau makanan/ minuman yang difortifikasi B12, lalu vitamin D khusus untuk daerah yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari. Lalu kalsium, dapat dengan mudah dipenuhi asal mengonsumsi sayur-sayuran hijau dan produk kedelai seperti tahu dan tempe. Salah satu bagian tidak kalah menarik dari ulasan beliau adalah panduan Makan Seimbang yang Sehat dengan nama My Healthy Plate yang dikeluarkan oleh Harvard University ternyata bahkan berbeda dengan panduan yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika sendiri- My Plate (tanpa kata healthy). Harvard tidak menyertakan susu melainkan menggantinya dengan air putih.

Memasuki sesi tanya jawab, seminar yang dihadiri sekitar 380 peserta terlihat sangat antusias, ini terlihat dari jumlah penanya dari tiap termin kesempatan bertanya yang diberi. Ada yang kontra ada yang pro, namun penjelasan-penjelasan yang merujuk pada bukti ilmiah menjernihkan keragu-raguan atau bahkan penolakan yang ada sehingga yang pro semakin mantap dan yang kontra dapat menerima data terbaru yang dipaparkan oleh masing-masing narasumber.

Foto dan Teks: Majalah Info Vegetarian (Chindy Tan)

Dari Seminar Awet Muda dan Bugar Dengan Diet Vegan

Ibu Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, Dosen Gizi Poltekkes Kementerian Kesehatan RI, seolah menghipnotis peserta IVS & VSI Gathering pada Sabtu 25 Febuary 2012 lalu di House of Peace Vegetarian Cafe. Bagaimana tidak, melihat sosok Ibu dari 4 orang anak yang telah menjadi seorang vegetarian sejak 30 tahun lalu ini, seolah menjadi jawaban paling tepat tema gathering, Awet Muda dan Bugar dengan Diet Vegan. Beliau meyakinkan para peserta gathering bahwa menjadi seorang pelaku vegan sekalipun tidak akan menghambat pembentukan otot kita, bahkan Ibu Rita memaparkan data-data ilmiah perbandingan kandungan Branch Chain Amino Acids(BCAA = asam amino yang berfungsi untuk menjaga massa otot) yang biasa dikonsumsi oleh kaum fitness dari susu dan putih telur, ternyata bisa juga didapatkan dari kacang kedelai dan kacang hijau dengan kandungan yang hampir sama banyaknya. Whey Protein yang banyak dikonsumsi kaum fitnesspun kini bisa digantikan dengan Soy Protein yang berbasis kacang kedelai. Dengan fungsi dan kehebatan yang sama pastinya!

Tidak menyantap dada ayam yang merupakan menu utama kaum fitness ternyata bukan halangan berarti bagi Ibu Rita untuk menjadi lulusan terbaik dalam menempuh pendidikan instruktur fitnessnya. Hingga kini Ibu Rita aktif dengan segudang ilmu dan pengalaman yang menjadi bukti nyata seberapa besar eksistensi Ibu Rita dalam dunia nutrisi. Bukan karena Ibu Rita sendiri vegetarian, tetapi karena pola makan nabati dapat dibuktikan sangat baik bagi tubuh kita. Setiap dari kita yang telah memilih pola makan vegan, pastinya semakin hari semakin sulit untuk menemukan alasan untuk berhenti dan beralih dari pola makan berbasis nabati ini. eperti halnya pernyataan Bapak Kedokteran kita, Hippocrates, "Jadikanlah makananmu sebagai obatmu", ternyata pola makan berbasis nabati juga mampu menjadi anti aging atau anti penuaan dini bagi kita kaum vegan. dr. Novie Lim yang tergabung dalam VSI & IVS Medical Group sekaligus Research & Scientific Support PT. Indocare Citrapacific malam itu menjelaskan bagaimana anti oksidan dalam asupan makanan alami seperti sayur dan buah tidak diragukan lagi merupakan kunci sukses awet muda! Decak kagum sontak terdengar di penjuru House of Peace saat dr. Novie Lim menampilkan para kaum Vegan yang bukan hanya bugar tetapi juga awet muda.

Bukan hanya mereka yang mampu mengeluarkan ratusan bahkan jutaan uang untuk berbagai produk perawatan, tetapi hanya dengan ribuan rupiah dari sayur dan buah, kita dapat hidup bugar dan awet muda! Hidup sayur dan buah! Hidup anti-oksidan!

Sebagai penutup, DR Susianto, selaku President Vegan Society of Indonesia menyampaikan untuk ke depan diharapkan acara-acara gathering dapat diisi dengan ulasan atau sharing dari aspek etika, sebagai dasar filosofi dasar dari vegetarian dan vegan. Adalah penting menaruh empati terhadap hak hidup hewan, hak untuk tidak disakiti, hingga semua makhluk layak menikmati hidup mereka.

Go vegan! Save Our Lives, Save Our Planet!

Teks: Majalah Infovegetarian-Luvita Ariesta Suryadi
Editor: Chindy Tan
Foto: Sandy Bunardi

8 Feb 2012

Awet Muda dan Bugar dengan Diet Vegan

Seminar & Dinner, 25 Februari 2012

Biaya Rp. 50.000,-
bertempat di House Of Peace, Jl. Erlangga V no. 8 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Tema :
*Fitness dengan Diet Vegan
oleh Rita Ramayulis, DCN, M. Kes
(Dosen Gizi Poltekkes Kementrian Kesehatan RI)

*Cegah Penuaan Dini dengan Diet Vegan
oleh dr. Novie Lim
(Research & scientific Support PT. Indocare Citrapacific,
VSI & IVS Medical Group)

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:
Sdri. Luvita (0857 1092 5566/ 9289 2102)
e-mail: luvita.suryadi@hotmail.com

22 Dec 2011

Seto Mulyadi :" Lebih Tenang, Sabar, Fokus dan Bugar Setelah Menjadi Vegan."

Kak Seto (60 tahun)


"Adalah sebuah anugerah bahwa saya memiliki fisik yang cukup prima. Ini saya rasakan setelah sejak 6 bulan lalu saya memutuskan untuk menganut pola makan vegan.

Saya tidak mengira pola makan vegan bisa membawa perubahan sejauh dan secepat ini. Jika biasanya setiap pagi setelah jogging 30-45 menit, paling banter saya hanya kuat push-up sebanyak 25x, setelah vegan saya bisa push-up sedikitnya 50x.

Tubuh saya terasa lebih bugar, tidak mudah terkena flu serta tidak pernah lagi masuk angin. Nafas jadi lebih lega dan panjang. Secara psikologis, saya jadi lebih tenang, relatif lebih sabar, serta lebih fokus.

Mengapa Vegan?
Adalah anak saya Bimo, 20 tahun, sebagai orang pertama yang menganut vegan di rumah kami (sejak kelas 2 SMP) dengan alasan menyayangi hewan, ia malah tidak lagi memakai barang berbahan kulit hewan apa pun, mulai dari sepatu, gesper, dompet, tas, dan lain-lain, terutama kegigihannya mempertahankan keyakinannya bahwa pola makan yang ia pilih memiliki tujuan mulia, yaitu demi kesehatan dan kelangsungan hidup umat manusia.
Pola makan vegan sangat baik untuk kesehatan & relatif membuat pelaku vegan merasa memiliki tanggung jawab secara langsung terhadap lingkungan hidup. Sebagai manusia sudah semestinya kita menjaga keseimbangan lingkungan dan hidup harmonis dengan alam.

Daging bukan satu-satunya sumber protein, malah sumber protein nabati seperti taoge dan kacang-kacangan, khususnya tempe terbukti lebih baik ketimbang sumber protein hewani yang mengandung lemak dan kalori lebih rendah.

Penelitian tentang nilai gizi tempe menurut Dr. Hardinsyah, ahli gizi IPB telah membuktikan bahwa tempe mengandung vitamin B12, seng (zinc) dan mineral lainnya, sehingga para vegan tidak perlu khawatir kekurangan vitamin ini.

Ke depannya, saya akan mengajak banyak ahli gizi untuk ikut membantu menjelaskan dan mulai mengajak anak-anak Indonesia lebih memilih pola makan yang lebih ramah terhadap lingkungan."

Majalah Nirmala, edisi Desember 2011

6 Dec 2011

Tempe Lebih Bergizi Dibandingkan Daging

Komposisi Gizi tempe dan daging dalam 100 gram

Sumber : Hermana, Mien Karmini, dan Darwin Karyadi. “komposisi gizi tempe serta manfaatnya dalam peninggkatan Gizi Pangan” dalam Bunga Rampai Tempe Indonesia, Yayasan Tempe Indonesia, 1996.

14 Nov 2011

Susu dan Telur Sumber Lemak dan Kolesterol Tinggi

Dr.Drs.Susianto,MKM(Ahli Gizi & Presiden Vegan Society of Indonesia, juga penulis buku The Miracle of Vegan) :


Hasil beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengkonsumsi susu dan telur sama berbahayanya dengan mengkonsumsi daging. Susu dan telur merupakan sumber lemak dan kolesterol tinggi. Kalsium yang terdapat dalam susu tidak efektif diserap tubuh jika dibandingkan dengan kalsium yang terdapat dalam tumbuhan. Faktanya mengkonsumsi susu justru dapat menyebabkan kenaikan kadar kalsium dalam darah secara tiba-tiba, sehingga secara otomatis kelebihan tersebut menyebabkan kalsium dari ginjal dibuang melalui urine. Untuk menggantikan kalsium yang hilang tersebut darah mengambil kalsium dari tulang. Tidak mengherankan jika mengkonsumsi susu dalam waktu yang lama, yang terjadi justru Osteoporosis. Susu mengandung laktosa, lemak jenuh, dan merupakan protein hewani. Para peneliti di fakultas kedokteran Universitas Yale menyimpulkan bahwa ada hubungan antara asupan protein hewani dengan patah tulang. Sekitar 70% kasus patah tulang disebabkan oleh konsumsi protein hewani.Protein hewani meningkatkan keasaman darah pada jaringan tubuh. Padahal tubuh tidak menyukai suasana asam dan berusaha menetralisasi sifat asam tersebut dengan cara mengambil kalsium dari tulang, sehingga meningkatkan resiko Osteoporosis (rapuh tulang) dan Fraktur (patah tulang). Jika susu dapat menyebabkan Osteoporosis, telur yang selama ini dianggap sebagai sumber protein yang murah, ternyata me- miliki kandungan kolesterol yang cukup tinggi.Setiap butir telur mengandung 213 mg kolesterol, sama dengan kandungan kolesterol dalam 224 gram steak daging. Selain itu kuning telur mengandung lemak jenuh, sedangkan putih telur mengandung protein hewan yang dapat berkontribusi terhadap kehilangan kalsium dan masalah ginjal. (disarikan oleh Kiswan)

Ingin mendapatkan pemberitahuan update artikel dari New Vegetarian Planet langsung ke alamat Email Anda? Silahkan masukkan email Anda di bawah ini, setelah itu masuk ke inbox email Anda untuk mengaktifkan email dari FeedBurner:

Delivered by FeedBurner

From Me

New Vegetarian Planet is dedicated to promote understanding and respect for vegetarian lifestyles either from aspecs of spiritual, ethics, health, environment et cetera. May be copied only for personal use or by not-for-profit organizations. All copied and reprinted material written by me must contain weblog link http://www.newvegeplanet.blogspot.com
Finally, I hope more people will understand the reasons for choosing a vegetarian way of life. Come on to hold hands, we struggle for the safety of humans, animals, and this beloved earth through vegetarianism.
Best regards Liliyana Waty