6 Jul 2009

Oleh-Oleh dari Bali Vegetarian Tour (Part 1)

Oleh : Liliyana Waty
Hari ke -1 (27 Jun 2009)
Saya, suami dan anak semata wayang kami, Steven, tiba di Airport Ngurah Rai- Bali pukul 19.35 Wita. Sementara tujuh peserta tour lainnya baru akan tiba tengah malam kemudian. Lima orang lainnya sudah berada di Bali sejak tanggal 26 Juni, total peserta 15 orang. Kami dijemput supir Pak Pur dan Guide Tejo Bds. Langsung diantar ke Hotel Bali Segara di daerah Tuban.
Saya memesan hotel ini dari internet. Menurut referensi yang saya baca, semua tamu yang pernah menginap di sini memberi penilaian yang tinggi untuk kebersihannya. Inilah alasan saya memilih hotel ini di samping tentu saja harga yang sebanding. Tahun lalu kami menginap di hotel bintang empat tapi sangat mengecewakan karena kamar kotor dan toilet jorok sekali. Hanya perlu waktu kurang dari sepuluh menit untuk mencapai hotel.Ternyata hotel ini memang bersih sekali. Hotel Bali Segara yang dikelola secara kekeluargaan ini awalnya adalah tempat tinggal yang kemudian difungsikan sebagai hotel. Pemiliknya Pak Ketut Aryana adalah penganut Buddhis yang cukup terkenal di Bali.

Beliau tinggal di lantai tiga hotel bersama istrinya yang berasal dari Jepang dan anak semata wayang mereka yang berumur enam tahun. Beliau sangat ramah, selalu menyempatkan diri menyapa dan bercakap-cakap dengan tamunya termasuk kami. Hotel ini hanya memiliki 6 kamar standar, 8 deluxe dan 1 Family Room. Kami bertiga bersama mama dan adik saya Limey menempati Family room (menurut saya lebih tepat disebut vila) yang terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama terdiri dari ruang tamu, ruang makan dan dapur, sementara kamar atas terdiri dari 1 ruang duduk , 1 kamar utama dan 1 kamar anak dan balkon tentunya. Sungguh menyenangkan, view-nya bagus, langsung ke kolam renang. Lingkungannya yang kecil, memudahkan dan menenangkan hati kami yang membawa anak kecil karena dari balkon kamar kami dapat mengawasi anak-anak yang sedang berenang atau bermain.

Yang kurang dari hotel ini adalah menu sarapannya yang bergaya continental. Sarapan hanya mempunyai pilihan pancake banana (tepung yang didadar dan ditaburi pisang di atasnya) atau roti tawar dua potong atau semangkok kecil bubur atau telur dadar dengan ditemani kopi atau teh dan sepiring kecil buah untuk berdua yang terdiri dari tiga potong semangka, tiga potong pepaya dan tiga potong nenas, malah nenasnya kadang-kadang tak ada. Tak ada menu nasi atau mie. Untuk saya yang vegan tidak ada menu yang bisa dijadikan sarapan karena bubur pun dimasak pakai bumbu masako, kecuali mau order khusus dengan biaya tambahan.

Hari ini kami tidur jam satu bahkan ada yang jam dua dini hari, karena baru tiba di hotel tengah malam dan tidak dapat tidur dengan segera.

Sedikit tips untuk para vegetarian, diingatkan agar selalu berhati-hati dengan makanan. Selama ini jika kita beli bubur atau gorengan, jika kita tanya apakah ada pakai bawang atau daging-dagingan, jika dijawab tidak ada, bukan berarti aman, kita harus selidiki lebih lanjut apakah pakai bumbu masak rasa ayam (daging). Hal ini sempat kami alami. Bubur yang disajikan, dikatakan tak ada bawang dan tak ada daging, polos, dengan yakin pelayannya mengatakan aman untuk vegetarian, ternyata setelah ditanya lebih lanjut, akhirnya dikatakan bahwa buburnya dimasak pakai masako rasa ayam. Begitu pula gorengan berupa tempe dan tahu yang dijual, yang sempat dibeli dari seberang jalan, dijawab memang tak ada bawang dan tak pakai udang tapi besoknya ketika beli lagi dan ditanya lagi kepada penjual yang lain didapat jawaban bahwa pakai bumbu masakan masako. Untung saya tak makan tahu dan tempenya kemarin tapi sempat makan pisang gorengnya yang digoreng terpisah dan diyakinkan benar-benar hanya pakai tepung, tapi hari ini saya sudah tak berani makan pisang goreng tersebut lagi. Untuk yang doyan makan buah potong, juga hati-hati, karena garam dan cabenya ternyata dicampur terasi, hal ini kami temui di daerah pantai Kuta.
Hari ke -2 (28 Jun 09)

Petualangan dimulai. Hari ini kita menuju Bedugul untuk main Tree Top. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam- an kami tiba di Restoran PACUNG LABHAGGA untuk makan siang.

Restoran ini menyediakan menu vegetarian dan non vegetarian. Selain itu restoran ini juga menyediakan banyak snack yang dapat kita nikmati. Restoran ini terletak di daerah yang menyejukan mata. Sejauh mata memandang, hamparan hijau-lah yang kita temui. Sebuah tempat yang indah, sambil menikmati makanan vegetarian, mata kami-pun dimanjakan dengan indahnya alam yang asri dengan hawa yang sejuk.

Pemandangan dari restoran

Pemandangan indah dari restoran

Semoga alam Bali selalu terjaga dan selamanya menjadi Pulau Dewata.
Perjalanan kemudian kami lanjutan ke Kebun Raya di Bedugul untuk menikmati permainan Bali Tree Top dalam suasana alam asri Kebun Raya Bali.

Kebun Raya di daerah Bedugul

Sungguh sangat mengasyikan melihat lokasi Tree Top, permainan menantang banyak sekali dan tinggi-tinggi. Kami tidak dapat segera bermain karena ramai sekali. Kami pun antri sambil melihat orang-orang bermain. Teriakan ketakutan dari atas pohon dan ketinggian diiringi tawa orang-orang yang menonton di bawah membuat kami ikut tertawa-tawa tapi juga sedikit deg-degan.

Akhirnya tibalah waktunya kami untuk berpetualang. Satu persatu kami diberi alat pengaman dan kemudian dikumpulkan untuk dibriefing. Berbeda dengan outbound yang selama ini kami ikuti, di sini semua alat keselamatan kita pasang sendiri, tak ada instruktur yang memasangkan alat keselamatan dari satu pos ke pos lainnya, para instruktur hanya mengawasi dari jarak tertentu atau dari bawah, kita yang harus mandiri untuk pasang sendiri alat keselamatan dan memeriksanya dengan teliti.

Seram juga mengingatnya, khawatir kita atau anak-anak karena terlalu exciting, terlalu buru-buru sehingga alat keselamatan belum terkunci dengan benar. Untunglah semua selesai dengan aman. Dalam web Bali Tree Top tertulis bahwa ada 6 level tingkat kesulitan permainan yaitu Squirrel easy, squirrel Green, Discovery, Dance with Trees, Emotion, dan Adrenalin yang mencapai ketinggian 20 meter! Di lokasi saya hanya sempat membaca empat jalur permainan yaitu easy, medium, medium hard, dan hard.
Steven , Metta, Limey, Merry, Melvin, Sucipto memulainya dengan memilih jalur Medium. Saya sempat ikut naik tangga untuk main di jalur medium tapi kemudian turun karena merasa seram, maklum.... saya phobia ketinggian. Akhirnya sayapun memilih jalur easy. Jalur easy dimulai dengan ketinggian yang rendah saja mulanya, tapi kemudian saya tiba di jalur yang terbagi dua, saya lalu diarahkan ke jalur yang lebih tinggi oleh instrukturnya sambil menjelaskan bahwa arah lebih rendah untuk anak-anak.

Rupanya jalur ini semakin lama semakin tinggi dan menegangkan, phobia ketinggian saya pun kembali menyerang tapi kali ini saya tak ada pilihan lain selain meneruskan, karena tak ada jalan turun selain menyelesaikan permainan.

Beberapa kali saya harus berhenti, terutama pada permainan flying fox di tengah-tengah pohon, saya tidak berani meluncur, sementara di seberang instruktur sudah berteriak-teriak minta saya meluncur dan di bawah para penonton bersorak-sorai meneriaki, ’’Loncat....loncat....!”. Akhirnya....huuuup ...dengan mencengkram tali kuat-kuat dan berdoa sayapun meluncur. Penonton di bawah pun bersorak-sorak dan bertepuk tangan sambil tertawa-tawa. Setelah sukses meluncur, ketakutan berubah menjadi asyiik dan kami pun menjadi ketagihan.


Sementara itu saya sempat juga mengamati teman-teman satu tour yang berada di jalur hijau. Walaupun saya sendiri ketakutan, tapi saya juga sempat menertawakan mereka karena samar-samar saya melihat beberapa dari mereka ketakutan dan pucat pasi memeluk pohon erat-erat. Saling teriak dan memotivasi pun,”Ayo...kamu bisa”, atau kadang-kadang juga saling ejek, ”Wuiii si A pucat....Ayo loncat...., masa gitu aja gak berani,” terdengar ramai.
Para orang tua atau anak yang tidak ikut berpetualang, sibuk mengabadikan dari bawah baik dengan tustel maupun handycam. Beberapa remaja di bawah juga selalu mengejek teman-temannya yang mematung dan memegang pohon erat-erat di ketinggian. Sementara yang di atas tak dapat berbuat apa-apa selain meneruskan permainan sampai selesai. Sungguh sangat mengasyikan tapi juga menakutkan, perasaan pun menjadi campur aduk.

Di bagian lain, terlihat seorang remaja putri berteriak-teriak,” Tolong...tolong...saya!” sambil mencengkram alat keselamatan kencang-kencang. Yang lalu dibalas teman-temannya di bawah dengan tertawa-tawa,” Rasain, siapa yang mau nolongin, usaha saja sendiri.”

Yang juga tak kalah lucunya adalah Steven, Metta, Limey yang kemudian mencoba jalur medium hard setelah menyelesaikan semua permainan di jalur Medium. Para pemberani ini ternyata akhirnya juga ketakutan ketika tiba untuk terjun melayang dengan satu tali seperti tarzan.


Limey dan Steven, berdiri mematung lama sekali di ketinggian di atas pohon tak berani meloncat, sementara kami yang di bawah juga berteriak-teriak mengingatkan agar memegang tali yang benar. Perlu waktu yang lama sampai akhirnya mereka terpaksa melayang menuju jaring di seberang. Instruktur yang berada di jaring pun dengan cekatan menangkap mereka dan lalu terpaksa menurunkan mereka dengan tali agar tidak melanjutkan lagi permainan yang lebih menegangkan. Sampai di bawah, mereka mengatakan, bahwa tadi sungguh-sungguh menakutkan dan tak berani mencoba lagi. Kembali kami pun mengejek mereka. Sungguh fun sekali.
Waktu yang harusnya hanya dua setengah jam, kami lampaui sampai empat jam lebih. Akhirnya jadwal ke Tanah Lot pada hari itu pun pun tak terlaksana, dan rencananya kami ganti hari lain. Karena kami semuanya teman yang sudah saling mengenal maka asyik-asyik saja dan kami jalani dengan happy-happy saja.
Perjalanan lalu kami lanjutlan ke daerah dingin Danau Beratan Bedugul, yang hanya berjarak kira-kira belasan menit dari Kebun Raya Bogor. Di sini hawanya sangat dingiiiin sekali.
Pemandangannya sungguh sangat indah dan menyejukan. Kami lalu foto-foto di tepi danau.

Setelah puas berfoto, keluarga Merry dan keluarga saya kemudian naik speedboat keliling danau dengan biaya Rp 90.000,- per speedboat, kami menyewa dua speedboat untuk sepuluh orang ,sedangkan Apau sekeluarga tidak ikut karena ada anaknya yang sedang tidak enak badan, masuk angin dan pusing-pusing.

Perjalanan dengan speedboat ini sangat mengasyikkan, pemandangan sangat indah sekali. Juru mudinya sekaligus adalah juga tukang potret - entah juru mudi yang jadi tukang potret atau tukang potret yang jadi juru mudi - jadilah kami minta dipotret untuk kenang-kenangan dengan biaya perlembar Rp 25.000,-. Steven pun kemudian mengambil alih kemudi karena tukang foto pindah ke depan speedboat untuk mengabadikan kami.

Yang terjadi kemudian, malah akhirnya hampir sepanjang perjalanan, juru mudinya hanya santai duduk di depan speedboat karena Steven ketagihan untukmengambil alih kemudi, tentu dengan pengawasan juru mudinya.

Udara di danau sangat menyegarkan, kami keliling sekitar 20 menit lebih dan sempat mengambil banyak foto pemandangan dari atas speedboat.






Tak terasa, hari pun menjelang gelap. Kami pun meninggalkan Bedugul yang indah menuju Denpasar untuk makan malam di restoran vegetarian di daerah Denpasar. Sungguh hari yang penuh petualangan tapi mengasyikan. Bersambung ke part 2

1 comment:

  1. Wuiiihhh - asyiknya === taon depan - lage donk ;)

    ReplyDelete

Ingin mendapatkan pemberitahuan update artikel dari New Vegetarian Planet langsung ke alamat Email Anda? Silahkan masukkan email Anda di bawah ini, setelah itu masuk ke inbox email Anda untuk mengaktifkan email dari FeedBurner:

Delivered by FeedBurner

From Me

New Vegetarian Planet is dedicated to promote understanding and respect for vegetarian lifestyles either from aspecs of spiritual, ethics, health, environment et cetera. May be copied only for personal use or by not-for-profit organizations. All copied and reprinted material written by me must contain weblog link http://www.newvegeplanet.blogspot.com
Finally, I hope more people will understand the reasons for choosing a vegetarian way of life. Come on to hold hands, we struggle for the safety of humans, animals, and this beloved earth through vegetarianism.
Best regards Liliyana Waty